ISTRI

WhatsApp Image 2017-09-11 at 10.51.06.jpeg

Akhirnya
Di tanah kelahiran
Di bumi masa kanak-kanak
Di serambi masa remaja
Terpatri cintaku
Dan berlabuh kasihku

Telah jauh langkah mengayun
Betapa panjang sungai kurenangi
Begitu luas bumi kutapaki
Telah panjang langit kuarungi
Sejatinya
Di tanah kelahiranku
Semua terpatri

Aku mempertaruhkan keberanian
Tiada tara
Menjatuhkan pilihan
Pada salah seorang wanita
Di antara milyaran wanita di dunia

Mempertaruhkan masa depan
Melabuhkan perasaan
Merajuk cinta
Pada dia seorang

Sekalipun waktu hanya selintas
Mempelajari siapa dia
Menyelami hati
Memahami dirinya

Pilihan jatuh pada dirinya
Gegabahkan keputusan itu
Cantikkah dia
Maniskah dia
Rendah hatikah dia
Tidaklah semua terjamah
Dengan waktu sekejap

Manusia dikaruniai kecerdasan
Diberkati imajinasi
Diberikan ketajaman logika
Dikaruniai hati bening

Diilhami perasaan dan firasat
Dibekali kekuatan cinta
Tetapi semua itu masih serba terbatas

Tangan Tuhan bekerja
Pensil Tuhan cerdas menulis
Kuasa Tuhan lincah melukis
Pilihan saya pilihan Allah
Jodoh saya karunia
Pasangan saya rahmat
Tidakkah manusia dilahirkan
Menjadi khalifah di atas bumi

Semua apa adanya
Berjalan alami laksana air sejuk mengalir
Itulah hati saya yang sedang damai
Sedamai cinta istri saya!

New Dehli, 16 Desember 2003
Mohammad Jafar Hafsah
Istri
Puisi Hati Sang Birokrat 2

Advertisements

Losari 1

Engkau pantai yang santai
Walau kau indah,
Tapi terkadang tidak diindahkan
Oleh orang dan masyarakat
 
Engkau cantik
Walau jerawat di raut wajahmu
Ombak selalu setia menghinggapimu
Angin sepoi-sepoi selalu menyertaimu
Walau rintik menggerogoti
Engkau tetap dikerumuni orang
 
Oh Losariku, saya mimpi
Engkau secantik aslimu
Malah lebih cantik dari wajahmu
Kapan ?…..
 
Makassar, 17 Februari 2002
Mohammad Jafar Hafsah
Losari 1
Puisi Hati Sang Birokrat 1

Matahariku

Pagi hari nan indah
Merah merona diufuk timur
Burung berkicau riang bersahut-sahutan
Sekeping tanya membisik hati
Kenapa engkau burungku
 
Pasti menyambut mentari pagi
Si Raja energi, penuh kepastian
Selalu jujur
Yang senantiasa setia
 
Adakah engkau burung bisa bernyanyi untukku
Saya juga orang setia lagi pula jujur
Burungpun berkicau lebih merdu
Aku bangga dan aku puas
Hatipun berbunga-bunga
 
Pada waktu itu aku ta’ mau tahu
Tidak pula berusaha tahu
Anggap saja burung berkicau untuk saya
walaupun bernyanyi untuk mentari pagi
 
Sama saja, tidak usah egis
Matahari bagian dari hidupku
Matahari energi jiwaku
Burung, si mungil sahabatku
Bernyanyilah selalu
Kidung-kidung cinta
Untuk kita semua
 
Penerbangan Jakarta – Balikpapan
31 – 07 – 2004
Matahari
Puisi Hati Sang Birokrat 3
Mohammad Jafar Hafsah

Tanpa Makna

Desah-desah nafas sang rajawali
Menguak dengan sukma belantara
Tiada senyawa menawan mukjizat
Kelakuan kelam bagai timba

Bujur harkat melekat langkah
Gontai sempoyongan memanggil dan menggapai
Adakah mimpi-mimpi dapat terwujud
Di ujung bulan ketawa berbisik

Kecuali dendam kesumat bersemangat merangkai tepian
Dupa warna mewangi menyiram kelam
Wujud mahligai semboyan karisma
Andakah hati luluh bersama nyawa

Kemana bayang-bayang berlari terjal
Di kubu tembok kumuh berlumut
Engkau tersenyum dengan bahagia
Menyeringai badan sekujur hujan
Letih menyongsong ufuk senja
Mencoba memahami makna hidup

Penerbangan Jakarta – Surabaya
15 – 07 – 2004
Mohammad Jafar Hafsah
Fatamorgana
Puisi Hati Sang Birokrat 3

Pohonku di Jakarta

Merintih, menangis, meringis
Sepi diantara keramaian
Menyendiri dalam hiruk-pikuk kebisingan
 
Sekalipun pokokmu tercekik beton
Batangmu ditempeli tutup botol
Badanmu penuh berlumuran cat
Rantingmu terdapat luka patahan
Tangkaimu lunglai digantung spanduk
 
Engkau tetap bertahan
Berdiri kokoh dan mencoba tegar
Menapakkan keasrian tertatih-tatih
Walaupun malu-malu
 
Pohonku sayang, kasihan deh kamu
sedih melihatmu
Kenapa wargaku tidak mengerti juga
Kenapa Walikota membiarkan
Pohon itu mahkluk hidup
Seperti kita juga,
Perlu hidup dan perlu ruang
 
Jakarta, 17 Februari 2005
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah

Sahabat

Apa khabar sahabatku
Lama kita ta’bersua
Melapuk kerinduan lama terpendam
Larut dan mendekam
 
Mengristal dalam kalbu
Berkarat memenuhi ruang
Semua berita lama kita kubur
Kecuali Lumpur Sidoarjo
 
Telah datang walau ta’ diundang
Bergumpal mengalir deras
Tanpa bisa disumbat dan dibendung
Apa dia datang karena alam atau karena ulah
 
Tangan – tangan manusia ngilu menggapai
Kepada buntu berpikir
Kecuali hati
Itupun hati nurani
 
Penerbangan Jakarta – Ujungpandang
18 Oktober 2016
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah
Sahabat