Gunung Kidul

Aku selusuri Jakarta dini hari

Menerobos kesepian dalam mimpi

Trotoar masih diam membisu

Jalan raya terasa kaku

Pohon, kokoh dalam beku

 

Tiada hari tanpa landasam

Waktu-waktuku diisi dengan mengudara

Mengunjungi petaniku di pelosok sana,

Kali ini di Gunung Kidul

 

Sekejap saja sudah melewati jalan berkelok

Menapaki perbukitan jati membatin

Sebagian masih ceria berbisik

Lainnya merintih menantang kemarau

Tapi semua melambaikan tangan

Menyapa saya memasuki gerbang kota

 

Gunung Kidul dengan perbukitan batu

Senantiasa diintai kemarau

Menempa rakyatnya menjadi ulet

Mereka-mereka pekerja keras

Garis-garis wajah mereka kokoh Diterpa teriknya mentari

 

Dulu mereka dibesarkan singkong

Darah dagingnya singkong

Walau sekarang sudah tidak lagi

Telah tergeser beras

 

Semua sah-sah saja

Beras-singkong sama saja

Nasi dan tiwul setali tiga uang

Tapi betapa indahnya

Jika tiwul dipopulerkan kembali

Nasi dan tiwul mitra komplementer

 

Tiada martabat yang rendah

Kecuali kekurangan gizi,

Kecuali kebodohan

Kecuali kelaparan

 

Yogyakarta, 13 Juli 2004

Mohammad Jafar Hafsah

Puisi Hati Sang Birokrat 3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s