Surabaya – Pasuruan

Sepanjang perjalanan penuh sunyi
Membelah mencabik udara segar
Betapa hiruk pikuknya kendaraan
Melaju_meluncur seperti peluru roket
Dimuntahkan dari ujung cerobong

Aku menoleh dan memandang
Hijau royo-royo menyejukkan pandang
Bentangan permadani hamparan padiku
melambai merayu sukma
Berdecak kagum, keindahan abadi

Nun jauh disana
Gemuruh mesin bangunan
Ribuan tempat tinggal baru
Hati bertambah gairah
Betapa lambang keperkasaan mesin pembangunan

Tetapi,
Jantung saya berhenti berdegub
Nafas tersengal sesak
Wajah tiba-tiba pucat pasi
Darah deras mengalir memacu nadi

Aku menyesal kenapa mata ini jeli
Kenapa otak ini senantiasa jernih
Imajinasi tak pernah henti berkelana
Menyusuri relung-relung Fatamorgana

Bangunan yang indah
Maksud baik itu
Kegembiraan para pekerja bangunan
Kegairahan perekonomian
Sirna di keheningan kalbu

Ternyata,
Bangunan indah
Arsitektur yang menawan
Dibangun di atas sawahku yang hijau
Dikitari aliran air jernih surgawi

Adakah yang salah
Mungkin tidak ada
Benturan dua kepentingan yang halal
Memerlukan kearifan
Rumah dan sawah
Keduanya penting
Tidak ada yang harus korban
Kalau kita cerdas
Atau arif
Bangunlah rumah di atas bukan sawah

Surabaya, 20 Juli 2004
Mohammad Jafar Hafsah
Puisi Hati Sang Birokrat 3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s