Matahari dan Mata Hati

Minggu pagi yang cerah
Burung-burungpun bernyanyi
Menyambut mentari pagi
Angin sepoi semilir sejuk
Merasuki relung-relung hati
Memberi kegairahan imajinasi
Mendatangkan optimisme kehidupan
Sungguh disiplin sang surya
Selalu setia muncul di pagi hari

Seperti mata hati saya
Yang selalu setia
Tidak pernah berbohong
Matahari dan mata hati memang sahabat
Mereka satu kerabat
Setia dan tidak pernah bohong
Mentari pagi yang cerah
Secerah hatiku pagi ini

Jatipadang Poncol, 17 Desember2006
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah
Matahari dan Mata Hati

Sahabat

Apa khabar sahabatku
Lama kita ta’bersua
Melapuk kerinduan lama terpendam
Larut dan mendekam

Mengristal dalam kalbu
Berkarat memenuhi ruang
Semua berita lamakita kubur
Kecuali Lumpur siduarjo

Telah datang walau ta’ diundang
Bergumpal mengalir deras
Tanpa bisa disumbat dan dibendung
Apa dia datang karena alam atau karena ulah

Tangan – tangan manusia ngilu menggapai
Kepala buntu berpikir
Kecuali hati
Itupun hati nurani

Penerbangan Jakarta – Ujungpandang
18 Oktober 2006
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah
Sahabat

Boost Post

Kemiskinan

Suversif, narkoba musuh besar
Teroris, pengacau musuh besar
Tetapi kemiskinan, pengangguran dan kebodohan
Musuh maha besar bangsa

Tsunami dengan segala keprihatinan
Telah mengobrak-abrik Aceh
Gempa tektonik telah
memporak-poranda Jogya

Namun tsunami sosial,
Akibat kemiskinan dan pengangguran,
akan lebih dahsyat lagi

Kalau miskin betapa mudah jadi kafir
Kalau mengganggur akan frustasi
Termaginalkan, terpinggirkan
Membuat rendah diri
Apatis dan pesimis
Lantas bagaimana bangkit
Bulatkan tekad, gelorakan perang
Anti kemiskinan dan pengangguran
Ciptakan lapangan kerja
Tingkatkan produktivitas dan efektifitas
Dan kerja keraaaasss!

Jatipadang Poncol,
17 Desember 2006
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah

Tulisan

Menulis itu adalah kesenangan
Tempat curahan hati, lampiaskan emosi
Refliksi imajinasi, tumpuhan khayalan
Menutur logika, mengasah kecerdasan
Tulisan keranjang ocehan
Dia juga sebagai tata krama
 
Tulisan cerminan karakter dan pribadi
Tulisan lantunan dawai hati
Tulisan nyanyian sungai
Tulisan pantulan keikhlasan
Merupakan refleksi kejujuran
 
Tulislah walau satu kata
Walau satu kalimat
Tidak ada satu orangpun
Yang bisa menghalangi,
Merdekalah dalam berfikir
Berdaulatlah dalam menulis
 
Tulisan monumental
Tulisan puncak-puncak budaya
Kenang_kenangan
Sejarah
Untuk generasi sekarang dan mendatang
Tulisan adalah harta pusaka
Yang abadi
 
Jatipadang Poncol,
26 Agustus 2004
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah 

Pohonku di Jakarta

Merintih, menangis, meringis
Sepi diantara keramaian
Menyindiri dalam hiruk-pikuk kebisingan

Sekalipun pokokmu tercekik beton
Batangmu ditempeli tutup botol
Badanmu penuh berlumuran cat
Rantingmu terdapat luka patahan
Tangkaimu lunglai digantungi spanduk,

Engkau tetap betahan
Berdiri kokoh dan mencoba tegar
Menapakkan keasrian tertatih-tatih
Walaupun malu-malu

Pohonku sayang, kasihan deh kamu
Sedih melihatmu
Kenapa wargaku tidak mengerti juga
Kenapa Walikotaku membiarkan
Pohon itu makhluk hidup
Seperti kita juga,
Perlu hidup dan perlu ruang

Jakarta, 17 Februari 2005
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah

Terpukau

Kesibukan begitu gencar mendera
Burung Ketilang bebas dari cahaya
Menggapai onggokan embun pagi
Bersiul nyaring tanpa getaran

Adakah sebuah hidup menanti
Masih adakah tetes awan
yang bebas mantera
Membuat semua terpukau dan kaku
Menguak rahasia hati

Penerbangan Jakarta – Jambi
27 November 2006
Mohammad Jafar Hafsah
Jejak Jelajah